menu
menu
News

LIPSUS: Usaha Bata Merah di Wolomarang Sikka, Warisan Keluarga yang Jadi Harapan Warga

Kaikai
01/12/2025 10:34:00

Laporan Reporter Magang TRIBUNFLORES.COM, Petrus Lewo Hekin dan Anselmus Nong Feri

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Tungku pembakaran bata merah tak pernah padam di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Aroma tanah dan asap pembakaran menjadi tanda geliat perajin bata merah di Wolomarang menjaga denyut ekonomi keluarga tetap berdetak.

Oleh karena itu, Wolomarang dikenal sebagai sentra kerajinan bata merah tradisional di Kabupaten Sikka. Bagi sebagian warga, bata merah bukan sekadar bahan bangunan, melainkan sumber penghidupan.

Di Kelurahan Wolomarang, usaha pembuatan bata merah juga bukan sekadar pekerjaan, tetapi warisan turun temurun yang menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat.

Bagi sebagian warga yang memiliki lahan dan modal, usaha ini menjadi sumber penghidupan utama. Sementara bagi yang tidak memilikinya, mereka menjadi buruh bata merah. 

Pasangan suami-istri, Benediktus Sirilus (27) dan Cindi Marsita Sari (27), adalah salah satu penggerak usaha bata merah di Kelurahan Wolomarang.

Sejak 2020, mereka menekuni usaha warisan turun-temurun dari orang tua Benediktus Sirilus.

“Kami melanjutkan usaha keluarga, karena di sini sebagian besar masyarakat memang bekerja sebagai pengrajin batu merah,” ujar Cindi saat ditemui di lokasi produksi bata merah.

Cindi mengatakan, usaha bata merah tersebut mempekerjakan sekitar 6 hingga 7 orang, jumlahnya tidak tetap karena disesuaikan kebutuhan produksi.

 

 

Di sini, pembuatan bata merah tidak hanya dikerjakan laki-laki. Para ibu, bahkan anak-anak, ikut membantu.

Para istri pekerja kerap menemani suami di lokasi produksi, membantu mencetak dan menggaruk bata agar target cepat tercapai.

“Biasanya pekerjanya laki-laki, tapi ibu-ibu juga sering membantu suami. Anak-anak pun kadang ikut menggaruk,” kata Cindi.

Pekerja yang menangani proses cetak, menggaruk, hingga mengangkut bata ke tungku pembakaran mendapat upah Rp150 per bata.

Sementara itu, pekerja yang hanya mencetak dan mengangkut bata ke tempat pembakaran mendapat upah Rp100 per bata.

Satu kali produksi bisa memakan waktu tiga minggu hingga satu bulan. Kapasitas pembakaran pun cukup besar.

Untuk dua pintu atau lubang pembakaran, sekali bakar bisa menghasilkan sekitar 28.000 bata merah. Jika tiga pintu digunakan, jumlahnya bisa mencapai 40.000 bata.

Namun, untuk mencapai produksi sebesar itu, bahan baku yang dibutuhkan juga besar. Setiap produksi memerlukan sekitar 13 truk tanah dan 4 mobil pikap kayu.

Harga satu truk tanah berkisar Rp350 ribu, sementara satu pikap kayu mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.

Di antara proses panjang itu, ada satu tahapan penting yang tidak boleh dilewatkan, yaitu menaburkan dedak kasar di atas susunan bata sebelum pembakaran. Dedak ini berfungsi untuk membentuk warna merah pada bata.

Namun, semua kerja keras ini bisa sia-sia jika cuaca tidak bersahabat. Musim hujan adalah tantangan terbesar. Terpal bocor dan air yang merembes bisa merusak batu yang sudah dikeringkan berhari-hari.

“Kami kesusahan ketika musim hujan tiba, kadang terpal kami bocor, air hujan merembes masuk kena batu yang kering. Akhirnya kami harus kerja ulang lagi,” ujar Cindi.

Cindi dan suaminya harus bekerja ekstra keras agar air hujan tidak merusak batu yang sudah kering.

“Kalau hujan, kami bisa kerja ulang. Batu yang sudah hampir siap bisa rusak semua,” ungkap Cindi.

Harga batu merah di Wolomarang pun tidak selalu stabil, berkisar Rp700–Rp900 per bata. Persaingan antarprodusen membuat harga sering mengikuti pasar.

Meski begitu, pasangan Cindi dan suaminya tidak kesulitan menjual hasil produksi mereka. Sejak lama, keluarga Benediktus memiliki pelanggan tetap, termasuk kontraktor yang sudah bekerja sama dengan orang tuanya.

“Dari usaha batu merah ini, saya dan suami bisa memenuhi kebutuhan hidup, bisa menabung, bahkan memenuhi kebutuhan keluarga dan adat. Jadi usaha ini sangat berarti bagi kami,” ungkapnya.

Di tengah gempuran teknologi, banyak produsen kini beralih ke mesin untuk mempercepat produksi batu bata. Namun, Benediktus dan Cindi memilih mempertahankan cara tradisional karena hasilnya dinilai berkualitas.

Lebih dari sekadar mempertahankan tradisi, pasangan ini ingin usaha bata merah mereka terus bertahan sebagai sumber penghidupan bagi warga sekitar.

Berita TribunFlores.Com Lainnya di Google News

KaiK.ai